PENJELASAN RIGID PAVEMENT DAN FLEXIBLE PAVEMENT SERTA CARA PERBAIKAN KERUSAKAN

FLEXIBLE PAVEMENT

Didalam pendekatan mekanika retak diasumsikan ada bagian yang lemah pada setiap material. Ketika pembebanan terjadi, ada konsentrasi tegangan yang lebih tinggi disekitar bagian tersebut, sehingga material tersebut tidak lagi memiliki distribusi tegangan yangseragam dan terjadilah kerusakan/ retak pada bagian tersebut dan berkembang ke bagian yang lainnya. Mekanika retak juga menggambarkan perkembangan retak tergantung pada sifat material tersebut.  
cara penanganan rigid pavement adalah sebagai berikut: 
A. Gelombang
1. Menambal di seluruh kedalaman. 
2. Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan lapisan tipis perawat permukaan, maka permukaan dikasarkan, kemudian dicampur dengan material pondasi, dan dipadatkan lagi sebelum meletakkan lapisan permukaan kembali (resurfacing). 
3. Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan pondasi melebihi 50 mm, keriting dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas  (pavement milling machine), diikuti dengan lapis tambahan (overlay) dari campuran aspal panas 1-1MA (hot mix) agar struktur perkerasan lebih kuat.
 B. Alur 
1. Seluruh kedalaman atau penambahan lapis tambahan (overlay) campuran aspal panas (hot mix) dengan perataan dan pelapisan permukaan.  Perbaikan alur dengan menambal permukaan, umumnya hanya untuk perbaikan sementara.   
2. Jika penyebabnya adalah lemahnya lapis pondasi (base) atau tanah-dasar, pembangunan kembali perkerasan secara total mungkin diperlukan, ternasuk juga penambahan drainase, terutama jika air menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan.
  C. AMBLAS 
1. Perawatan permukaan (surface treatment) atau micro surfacing. 
2. Untuk area kerusakan yang besar, perbaikan dapat dilakukan dengan menambal kulitnya (permukaan), atau menambal pada seluruh kedalaman. 
RIGID PAVEMENT
Perkerasan ini umumnya dipakai pada jalan yang memiliki kondisi lalu lintas yang cukup padat dan memiliki distribusi beban yang besar, seperti pada jalan-jalan lintas antar provinsi, jembatan layang (fly over), jalan tol, maupun pada persimpangan bersinyal. Jalan-jalan tersebut umumnya menggunakan beton sebagai bahan perkerasannya, namun untuk meningkatkan kenyamanan biasanya diatas permukaan perkerasan dilapisi asphalt. Keunggulan dari perkerasan kaku sendiri disbanding perkerasan lentur (asphalt) adalah bagaimana distribusi beban disalurkan ke subgrade. Perkerasan kaku karena mempunyai kekakuan dan stiffnes, akan mendistribusikan beban pada daerah yangg relatif luas pada subgrade, beton sendiri bagian utama yangg menanggung beban struktural. Sedangkan pada perkerasan lentur karena dibuat dari material yang kurang kaku, maka persebaran beban yang dilakukan tidak sebaik pada beton. Sehingga memerlukan ketebalan yang lebih besar.
  1. Metode Perbaikan Standar : - Penebaran Pasir - Pelaburan Aspal Setempat - Pelapisan Retakan - Pengisian Retakan - Penambalan Lubang - Perataan Perbaikan Jalan dengan Overlay Konstruksi jalan yang telah habis masa pelayanannya, telah mencapai indeks permukaan akhir yang perlu diberi lapis tambahan untuk dapat kembali mempunyai nilai kekuatan, tingkat kenyamanan, tingkat keamanan, tingkat kekedapan terhadap air dan tingkat kecepatan air mengalir. Langkah-langkah untuk merencanakan perbaikan jalan dengan overlay adalah sebagai berikut:
    1. Lalu-Lintas Harian Rata-Rata (LHR)
    2. Koefisien Kekuatan Relatif (a) dari Tiap Jenis Lapisan
    3. Tebal Lapisan Jalan Lama
    4. Indeks Tebal Perkerasan Ada (ITPada)
    5. Angka Ekivalen Beban Gandar Sumbu Kendaraan
    6. Lalu-Lintas Pada Lajur Rencana
    7. Modulus Resilien
    8. Reliabilitas Perbaikan Jalan dengan Rigid Pavement Perkerasan kaku dibedakan dalam 4 jenis 1. Perkerasan beton semen bersambung tanpa tulangan
    2. Perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan
    3. Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan
    4. Perkerasan beton semen pra-tegang
  2.  Perbaikan Jalan dengan CTRB (Cement Treated Recycling Base) Fungsi lapis pondasi antara lain adalah sebagai perletakan atau lantai kerja terhadap lapis permukaan dan lapisan perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya. Jenis-jenis lapis pondasi adalah Lapis Pondasi Agregat Kelas A, Lapis pondasi Agregat Kelas B dan kelas C, Asphlat Treated Base (ATB), Cement Treated Base (CTB), Cement Treated Recycling Base (CTRB). Struktur perkerasan dengan CTRB dapat dilihat pada gambar. Keuntungan :
    1 . Ketersediaan ; Semen dapat diperoleh di seluruh dunia dalam partai besar
    2 . Harga ; Semen relatif lebih murah dibandingkan dengan aspal
    3 . Aplikasi ; Semen dapat disebar dengan tangan
  3.  Analisis Biaya (Bina Marga 2002)
    1. Analisis Peralatan Biaya untuk peralatan terdiri dari dua komponen utama yaitu pemilikan dan biaya pengoperasian. Harga satuan alat = Jumlah biaya alat / Produksi Pekerjaan
    2. Analisa Tenaga Kerja Tenaga kerja pada pekerjaan jalan pada umumnya hanyalah sebagai pembantu pekerjaan alat yang merupakan fungsi utama dalam penyelesaian pekerjaan, sehingga tidak perlu dilakukan analisis yang mendalam. Harga satuan tenaga = Jumlah Upah Tenaga / Produksi Pekerjaan
    3. Analisis Bahan Analisis kebutuhan bahan sangat diperlukan, karena keterlambatan pekerjaan biasanya disebabkan keterlambatan dalam penyediaan bahan yang digunakan. Analisis juga diperlukan, karena pada perhitungan volume pekerjaan kondisinya adalah padat, sedangkan bahan dipasaran ditawarkan dalam kondisi tidak padat. Harga satuan tenaga = Jumlah harga satuan bahan penyusun x Kuantitas
    4. Biaya-Biaya Lain Biaya-biaya lain yang harus diperhitungkan adalah biaya-biaya tidak langsung , misalnya administrasi kantor, alat-alat komunikasi, kendaraan kantor, pajak, asuransi, serta biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan, walaupun biaya tersebut tidak secara langsung terlibat dalam proses pelaksaanaan pekerjaan

Komentar

Postingan Populer